![]()
Kemampuan memori setiap orang ternyata bukanlah semata-mata hasil genetika, tetapi juga karena adanya rangsangan dan pembentukan yang dimulai sejak dini. Peranan orang tua sangat signifikan dalam proses bembentukannya dan harus dilakukan secara kontinu.
Seperti diketahui, kemampuan memori memegang peranan yang krusial dalam proses pembelajaran dan bagi banyak orang menjadi salah satu tolok ukur dalam intelektualitas. Bahkan hal ini merupakan aset berharga sepanjang hidup. Tak heran bila banyak orang pun berusaha untuk terus meningkatkan daya ingat dan mengasah ketajamannya.
Banyak cara yang bisa dilakukan, mulai dari memperkenalkan musik-yang kemudian bisa dinyanyikan bersama anak-hingga melalui permainan-permainan yang mampu memberi rangsangan pada ketajaman memori. Tidak perlu menggunakan permainan yang khusus dan melihat harganya, hal-hal yang sederhana pun mampu memberi stimuli yang diperlukan untuk meningkatkan daya ingat. Misalnya setelah membacakan buku kesayangan anak, bantulah mereka mengingat kembali jalan ceritanya, seperti nama tokoh, nama tempat dan seterusnya. Dengan melakukan pengulangan, lama-lama anakpun akan terbiasa mendengarkan dan merekamnya dalam memori mereka.
Ketika anak beranjak besar, Anda dapat terus melatihnya dengan membuat teka-teki yang sifatnya bermain dan bersenang-senang, seputar jalan cerita buku yang telah dibacanya. Lagipula, membaca merupakan cara kuno yang masih diakui kemanjurannya untuk membantu menajamkan daya ingat.
Di usia balita, kegiatan fisik pada anak sangat diperlukan untuk mengembangkan sensor motorik dan sebagai salah satu cara bagi mereka untuk mengeksplorasi lingkungan. Hal ini pun bisa dimanfaatkan untuk sekaligus memberi rangsangan kemampuan mengingat pada anak. Caranya dengan mengajak anak menirukan gerakan yang Anda lakukan, misalnya tiga jenis gerakan yang berbeda. Apabila anak berhasil, lanjutkan ke tahap yang lebih sulit dengan lebih banyak gerakan. Dengan demikian, anak akan terbiasa untuk mengingat sesuatu yang diterimanya dengan cepat dan mampu untuk “memanggil” ingatannya kembali.
Masih banyak lagi permainan yang bisa dilakukan. Namun, satu hal yang pasti, jangan lupa memberi pujian pada anak yang akan menjadi salah satu motivator bagi mereka untuk terus belajar.
Sumber: Kompas,16 Juli 2006
Leave a Reply